Showing posts with label 8-rated. Show all posts
Showing posts with label 8-rated. Show all posts

Saturday, 30 November 2013

Going Postal by Terry Pratchett

Wow. I really like this book. It is a very refreshing read.

Meet Moist von Lipwig (pronounced Lipvig, thank you) a.k.a. Albert Spangler, incorrigible con man with a face so unforgettable that his mother once brought home a wrong kid from school. And he would hang tomorrow... But an angel came, an angel who would come only once for every man.
Thus, Mr. Spangler was hanged. He was dead. But immediately he got a new life as Moist von Lipwig and even got a job as a Postmaster. A unenviable job, because four Postmasters before him had been dead in unexplained circumstances... And not only that. By accepting that job, he found himself became a rival of clacks company, Grand Trunk, which was headed by a dangerous man.

This book is fast-paced. I find Moist to be a charming character. He thinks fast, and talks even faster. His falling in love with Adora Belle Dearheart, a girl who could see who he was through-and-through is funny and sweet. Ms. Dearheart's name is bound to give a wrong impression - bear in mind that she was nicknamed 'Killer' and 'Spike'. Affectionately, of course.
The concept of clacks is interesting. Clacks is equivalent to the Roundworld telegraph, but I feel that Sir Terry describe it as the more modern invention - the Internet. The description of its operators remind me to Google and Apple and Microsoft employees, you know, that type of people. 
The application of clacks and stamps can be seen as successful attempt to modernise Ankh-Morpork. It pleases me when an author continues to improve the city he creates. Because of it, Ankh-Morpork feels real. An ever-changing, dynamic city.



I've also watched a part of the movie adaptation, and I must say...
...that it disappoints me. I wholly disagree with its description of Moist. The movie Moist is too easily angered and too moral. I cannot imagine the Moist von Lipwig in the book haunted by his past doings, of people he has conned. Adora Belle's portrayal is fine - Claire Foy is suitable for portraying Adora. The other thing that disappoints me is a standard issue in movie adaptation - the omitting of the book parts. Because of these reasons, I cannot finish the movie - I cannot stand seeing Moist being made like that. 

Ten stars for the book.
Six for the movie.


Tuesday, 14 August 2012

Seraphina by Rachel Hartman

Judul : Seraphina
Penulis : Rachel Hartman
Tebal : 480 halaman
Penerbit : Random House
Genre : Fantasi
Seri atau standalone? : Seri, please Tuhan, jadikan ini seri


Akhirnya! Setelah sekian lama, saya menemukan lagi buku fantasi yang bermutu. Bukan sembarang buku fantasi pula, tapi buku fantasi yang menampilkan naga. Bukan fantasi werewolf, vampir, fallen angel ataupun fae alur ceritanya lama-lama pasaran, sama saja. Dan senang sekali akhirnya menemukan buku yang karakternya berpikiran sehat, bukan terlibat cinta cengeng-cengengan. Oooooh, finally. Buku medieval, mengandung naga, dan bagus.

Buku ini keren banget. Blurb-nya saja dari Christopher Paolini. Boleh dibilang, buku ini cocok buat penyuka Inheritance Cycle, walaupun pendekatannya kepada mitos naga cukup berbeda. Tapi ada kemiripannya : di dua seri itu, naga hidup berdampingan dengan manusia; sederajat, namun kadang-kadang ada kesalahpahaman di antara dua ras yang berbeda ini. Bedanya, di Inheritance Cycle naga tetap berwujud naga, sedangkan di Seraphina naga dapat mewujud menjadi manusia - wujud yang disebut saarantras. Dan di sini, naga adalah makhluk yang memiliki kecerdasan superior.

Karakter utama dalam buku ini bernama Seraphina Dombegh - saya tidak suka nama belakangnya :(
Dia karakter yang kontroversial sejak lahir karena dia campuran naga-manusia - hal yang terlarang - dan pada saat pembaptisannya dia 'memilih' santa pelindung yang terkenal sebagai santa bidaah. Saat dia tumbuh menjadi gadis dewasa, dia menjadi gadis yang sangat berbakat dalam musik, percaya diri, pandai, tapi dia tidak sombong karena kelebihannya itu. Dia judes dan diam-diam mengasihani diri sendiri (tapi dalam takaran yang normal serta alasan yang jelas dan dapat diterima). Seraphina Dombegh adalah protagonis yang mudah disenangi.

Karakter-karakter lainnya juga digambarkan dengan baik. Menurut saya, penokohan sudah cukup hidup, penulis cukup mendalami sifat-sifat mereka.

Penggambaran latar belakang juga sudah oke. Latar belakang dapat dipercaya dan sejalan dengan bangunan mitos yang penulis pakai. Bangunan mitos sudah kokoh, tidak ada hal yang kontradiktif satu sama lain, hal-hal di dalamnya dijelaskan dengan baik.

Untuk alur, ada bagian di mana jalannya terlalu lambat, sehingga menggoda saya untuk skip langsung ke bagian akhir. Tapi jangan lakukan itu. Untuk buku ini, jangan. Rugi nanti.

Saya memuji kemampuan penulis dalam memberi twist dan membangun ketegangan. Terbangun di saat yang tidak disangka-sangka, dan perlahan-lahan memuncak. Wow.

Buat penggemar Inheritance Cycle, buku ini layak dicoba. Bahasa Inggrisnya memang ada yang tidak umum dilihat, tapi secara keseluruhan masih mudah dimengerti oleh kita.

Rating delapan. Sekuel sangat dinantikan.

As usual, something from the story

Monday, 23 July 2012

The Tokyo Zodiac Murders


Judul     : The Tokyo Zodiac Murders
Penulis  : Soji Shimada
Format  : Softcover
Harga    : (kalau ga salah) Rp41250,00 
Beli di   : Rumah Buku Supratman 
Buku I dalam serial Detective Mitarai's Casebook

Saya membeli buku ini pada waktu saya lagi kehausan banget akan bacaan baru, yang bener-bener original dan bukan cetak ulang, dan yang e-booknya susah dicari. Kenapa harus yang e-booknya susah ditemukan? Karena harga e-book lebih murah daripada buku cetak. Kalau saya nemu e-booknya jelas saya lebih pilih beli e-book. Padahal saya lagi pengen banget buku yang bisa dibawa ke mana-mana. Udah gitu, desain sampulnya juga bagus, bikin penasaran. Juga penasaran, novel misteri karangan orang Jepang itu kayak gimana sih? Kalau manga-nya kan udah banyak beredar, macam Conan, Kindaichi, Q.E.D.

Ya udah sekian tentang alasan saya membeli buku ini.

Buku ini rame, lumayan ga bisa diletakin. Ada bagian-bagian di mana saya tergoda banget untuk membuka halaman akhir dan melihat siapa pelakunya dan trik apa yang digunakan, tapi untungnya saya berhasil menahan godaan itu. Kalau ditilik, godaan itu muncul karena ada bagian-bagian di mana dialognya membosankan karena mengulang hal itu lagi hal itu lagi. Terus nama-namanya kadang-kadang membuat bingung, orang yang bernama anu itu yang mana ya?

Laju penceritaannya udah oke, ga kecepetan ga kelambatan. Satu per satu fakta dan bukti baru dibuka dengan timing yang pas. Ga langsung ditumpahkan di depan atau tiba-tiba ditumpuk di belakang.

Di sini atmosfer Jepang tahun 1930-annya terasa sekali. Belum ada handphone. Belum ada segala teknologi canggih. DNA masih barang baru, belum ada komputer, apalagi database sidik jari. 

Novel ini mengingatkan saya (sedikit sih) pada serial karangan Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes. Sifat tokoh utamanya - Kiyoshi Mitarai - mirip Holmes (yah, ga senyentrik Holmes sih) dan dia punya pendamping yang berperan dan berposisi mirip dengan Watson.

Untuk pemecahan misterinya? Dengan malu saya akui, saya baru berhasil dapat bayangan akan triknya saat tiba di bagian akhir di mana si detektif menyebutkan petunjuk paling penting. (tapi seenggaknya kebayang hehehe)

Saya acungi jempol buat pengarangnya yang sukses membuat pengalih perhatian - red herring - yang bagus sehingga saya tertipu sampai akhir cerita. Saat kesadaran itu datang rasanya seperti ada rambatan arus listrik di otak - bzzzzt gitu.

Nilai untuk buku ini 8 dari 10 :) - 8 kurus ya, 8 menuju 7 bukan menuju 9.

Ga sabar menunggu sekuelnya deh!